Minggu, 29 Juni 2014

BUDAYA JAWA





unnes.jpg 

KESENIAN KETHOPRAK DI KABUPATEN PATI

Oleh :
Silvia Oti Nugraheni
2601411004
Rombel 01


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Budaya Jawa yang berjudul “Kesenian Ketoprak di Kabupaten Pati”.
Penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
 Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan berikutnya. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

                                                                                    Semarang, Desember 2011
                                                                                               
                                                                                                  Penulis





                              PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kethoprak komersial atau profesional dari Jawa yang usianya belum begitu tua, pada zaman sekarang perkembangannya kembang kempis ibarat hidup tak mau mati tak hendak.
Membicarakan Ketoprak bukan berarti membicarakan masa lalu. Ketoprak yang pada awalnya adalah suatu tradisi masyarakat agraris, sedikit demi sedikit berubah menjadi sebuah pertunjukan profesional yang seharusnya diperhitungkan. Ia berjalan, mengalir dari zaman ke zaman. Dan tentu saja pertentangan antara tradisi dan kontemporer menjadi tidak penting, karena tantangan yang dihadapi terus bergulir.
Saat ini, seakan-akan kethoprak sudah jarang diminati karena adanya perubahan zaman, dan semakin banyak yang berpikir bahwa ketoprak itu kuno. Dari segi sosiologi, masyarakat sekarang ini sedang dalam keadaan anomi, yaitu keadaan kebingungan. Mau mengacu pada nilai-nilai lama khawatir dianggap ketinggalan zaman, mau mengacu ke masa depan tapi belum sampai.

B.     Rumusan Masalah
a.       Darimana asal kethoprak ?
b.      Apa tujuan adanya pertunjukan kethoprak ?
c.       Bagaimana perjalanan dunia kethoprak ?
d.      Berapa pemain dan apa saja peralatan dalam pertunjukan kethoprak ?

C.     Tujuan
a.       Mengetahui asal kethoprak.
b.      Mengetahui tujuan adanya pertunjukan kethoprak.
c.       Memahami perjalanan dunia kethoprak.
d.      Mengetahui jumlah pemain dalam kethoprak beserta peralatan dalam pertunjukan.














ISI
Asal kesenian kethoprak
Salah satu daerah di Jawa Tengah yang dikenal sebagai gudangnya kesenian kethoprak adalah kabupaten Pati. Sebelumnya ada yang dari Solo, Jogja, akan tetapi sekarang sudah punah. Generasi peneruspun hampir tidak ada. Pati itu termasuk “babone” seni. Seperti halnya kota Rembang, yang disitu terdapat banyak seniman hebat, tetapi tidak sehebat seniman Pati, itulah yang membuat heran. Kota Rembang, Purwodadi, Jepara, Jogja termasuk juga Solo, dalam bidang kesenian mereka bernaung di organisasi milik daerah Pati. Beberapa grup kethoprak yang ada di Pati antara lain Siswo Budoyo, Cahyo Mudo, Bela Bharata, Konyik CS, Mogol CS, dan lain sebagainya. Sebagai seorang seniman kethoprak, untuk mengetahui kebenaran cerita dalam kethoprak, maka ia harus melakukan turne (terjun ke dunia nyata untuk membuktikan kebenaran cerita yang sering diwara-warakan di speaker). Contohnya, cerita Penthol Godhi lan Janurwenda Mbleber.
Tujuan adanya Pertunjukan Kethoprak
Adanya pertunjukan ketoprak ini merupakan salah satu usaha para seniman untuk turut melestarikan atau nguri-nguri kebudayaan asli Jawa. Mereka berusaha agar budaya  tersebut tidak punah termakan zaman. Tetapi dalam hal ini mereka juga butuh semangat  generasi muda yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk melestarikannya.
Perjalanan Dunia Kethoprak
Dalam perjalanannya, kethoprak itu tidak ada yang lembaga khusus yang menjadi penanggung jawab. Kethoprak berjalan sendiri. Mengapa harus seperti itu? Padahal pada kesenian lainnya terdapat lembaga yang bertanggung jawab dan mendanai, contohnya pedalangan, sindenan, karawitan dan lain-lain. Perkembangan seni pertunjukan itu dilihat dari siapa yang menjadi penyandang dana produksinya. Adapun juragan kethoprak, tetapi dia hanya berpikir “kethoprakku laris, untungku banyak”. Tidak berpikir tentang hal apa yang bisa dilakukan untuk melestarikan kebudayaan Jawa. Menurut penuturan Darsuki, salah satu pemain kethoprak di kabupaten Pati “ Terus terang saya merasa bingung, mengapa tidak ada lembaga yang berkanan sebagai penanggung jawab kethoprak? Pernah saya datang ke Pemda, membicarakan tentang hal itu. Saya pikir, setelah saya menceritakannya, akan ada gerakan hati mereka untuk memperhatikan nasib kethoprak,  turut melestarikan kesenian kethoprak ini dengan memberikan naungan dan tanggung jawab. Akan tetapi nihil, tidak ada respon dari mereka.”
Perkembangan kethoprak itu tergantung tanggapan. Sebagai patokannya, pada bulan Sura, Sapar, Maulud itu tidak ada tanggapan karena tidak mungkin di bulan-bulan itu ada orang yang punya hajatan (duwe gawe). Bulan Maulud itu bulan sela atau jeda. Pada bulan Apit tanggapan mulai ramai kembali karena pada bulan itu banyak acara sedekah bumi dan sedekah laut. Terlebih bulan Apit tahun 2011 ini yang merupakan tahun yang serba mudah. Mudah rejeki, mudah panennya, dan mudah dalam hal lainnya. Berdasarkan penuturan bapak Darsuki, bahwa sebenarnya di Pati ini terdapat lebih dari 50 rombongan atau grup kethoprak. Dan entah kenapa, tahun ini semuanya laku. Mulai dari kethoprak gedhe sampai kethoprak yang kurang dikenali masyarakat, mereka semua laku. Setiap desa pasti nanggap kethoprak ketika bulan Apit.
Keberadaan kethoprak sebagai salah satu kesenian rakyat tradisional sejak lahirnya sampai sekarang, berkembang selalu berupaya menyesuaikan selera/kesenangan masyarakat  penggemarnya. Dengan kata lain perkembangan kesenian kethoprak bersifat lentur atau luwes. Ini dapat disimak dan dibuktikan dari bentuk penyajian kesenian kethoprak dari tahun ke tahun yang senantiasa berubah. Perubahan yang terjadi di pertunjukan kethoprak bertujuan agar ketoprak digemari penonton. (Kartodirdjo : 41)
Menurut Soedarsono (1998 : 1) adapun penyebab dari hidup matinya seni pertunjukan ada bermacam-macam antara lain disebabkan oleh karena perubahan yang terjadi di bidang politik, ada yang disebabkan oleh masalah ekonomi, ada yang disebabkan karena perubahan selera masyarakat penikmat, dan ada pula yang karena tidak mampu bersaing dengan bentuk-bentuk pertunjukan lain.
Pemain dan Peralatan dalam Kethoprak
Jumlah personel kethoprak asli Pati itu tidak kurang dari 60 orang, kalau kurang dari 60 orang itu bukan kethoprak Pati tapi kethoprak Blora dan Sale. Personel-personel itu antara lain :
1). Wayang lanang 10 orang;
2). Rol wadon 4 orang;
3). Ledhek gambyong 7 orang;
4). Emban 1 orang;
5). Taman tidak kurang dari 9 orang;
6). Dagelan minimal 2 orang;
7). Kepruk salto 5x2 orang;
8). Tukang panggung kelir 6 orang;
9). Keprak 1 orang;
10). Speaker 1 orang;
11). Tukang lampu 1 orang;
12). Sinden 1-2 orang;
13). Pengrawit 8-9 orang; dan
14). Sopir .
Peralatan yang dibutuhkan dalam pementasan ketoprak antara lain 1). Panggung beserta kelir; 2). Gamelan; 3). Sound system; 4). Lighting dan diesel; dan 5). Kendaraan. Panggung pada zaman dahulu dinamakan sasak, yakni bambu yang dipotong-potong, yang kemudian ditumpangi gedheg. Dan kelir atau nama lainnya geber yang lengkap berjumlah 12. Kemudian pakaian pemain, yang diberi persediaan juragannya hanyalah gambyong dan wayang kepruk, yang lainnya bawa sendiri-sendiri.






PENUTUP
A.    Simpulan
Kesenian kethoprak yang dulunya hanyalah suatu tradisi masyarakat petani, sekarang berubah menjadi suatu pertunjukan yang harus diperhatikan. Salah satu daerah di Jawa Tengah yang memprakarsai kesenian kethoprak adalah kabupaten Pati. Banyak seniman kondang dari berbagai daerah yang tergabung dalam organisasi kethoprak di Pati. Para seniman itu berusaha melestarikan budaya asli Jawa Tengah. Dalam perjalanan kehidupannya, kethoprak berjalan sendiri tanpa ada lembaga khusus yang menjadi penanggung jawab, padahal kethoprak juga ingin berkembang seperti kesenian-kesenian lain.
Kethoprak ramai menggung ketika bulan Apit karena ada tradisi sedekah bumi dan sedekah laut di tiap-tiap daerah. Tetapi pada saat bulan Sura, Sapar, Maulud kethoprak libur karena pada bulan-bulan itu tidak mungkin ada orang duwe gawe, jika ada jadwal manggung mungkin itu hanya ketika ada acara kumpulan-kumpulan para seniman.

B.     Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan berikutnya.


LAMPIRAN

http://2.bp.blogspot.com/_THSkkfK-J7k/TOE2ELDwsRI/AAAAAAAABSI/71kVklF0u-0/s400/DSC_1287vvvvvvvv.jpg mban.jpeg
kt2 (1).jpeg
http://2.bp.blogspot.com/_THSkkfK-J7k/TOE4CCERYpI/AAAAAAAABSQ/HP9TXbnqjW8/s400/DSC_1299.JPG
http://2.bp.blogspot.com/_THSkkfK-J7k/TOE3X7F_d6I/AAAAAAAABSM/uzciaPBa_AY/s320/DSC_1292.JPG







DAFTAR PUSTAKA
Kartodirdjo,Sartono dkk.1997.Ketoprak Orde Baru.Yogyakarta:Yayasan Bentang Budaya.
Soedarsono, R.M..1998.Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi.Jakarta.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar